Tuesday, May 27, 2014

Pekan Imunisasi Dunia 2014: Imunisasi untuk Masa Depan yang Sehat

Jakarta, 22 April 2014

Sidang Majelis Kesehatan Dunia atau World Health Assembly (WHA) menyepakati bahwa minggu terakhir di bulan April setiap tahunnya merupakan Pekan Imunisasi Dunia (PID) atau World Immmunization Week (WIW). Tahun ini, pekan imunisasi dunia dilaksanakan pada tanggal 23-30 April 2014. Tema global peringatan PID 2014 adalah Are You Update?, sementara di Indonesia menyusung tema Imunisasi Untuk Masa Depan Yang Sehat.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE, menyatakan bahwa pada peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID) 2014 akan dilaksanakan Pelayanan Sepekan Imunisasi kepada bayi dan Balita, utamanya yang belum melengkapi imunisasi dasarnya di Puskesmas, RS dan lainnya.

Selain itu, juga dilakukan Drop Out Follow Up untuk melengkapi imunisasi anak yang terlewat, Sementara itu, puncak peringatan PID 2014 baru akan dilaksanakan pada awal Mei mendatang, tutur Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, di sela-sela penjelasannya pada kegiatan temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta (21/4).

Indonesia Bebas Polio

Pada 27 Maret 2014, Indonesia menjadi 1 dari 11 negara South East Asian Region (SEAR) yang berhasil menerima sertifikat Bebas Polio dari Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), di South-East Asia Regional Office WHO, New Delhi, India. Kesebelas negara tersebut, yaitu: Bangladesh, Bhutan, India, Korea Selatan, Maladewa, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste, dan Indonesia. 

Beberapa negara lain di dunia masih mempunyai kasus polio. Untuk bertahan agar terus bebas polio, Indonesia tetap harus melaksanakan imunisasi polio dengan cakupan yang tinggi dan merata serta meningkatkan surveilens kasus lumpuh layu.

Imunisasi Murah dan Efektif

Imunisasi telah mencegah 2-3 juta kematian anak di dunia setiap tahunnya. Namun demikian masih terdapat 22,6 juta anak di dunia tidak terjangkau imunisasi rutin. Lebih dari 13 persen anak Indonesia belum mendapatkan imunisasi secara lengkap karena berbagai sebab, padahal imunisasi lengkap dapat melindungi anak dari wabah, kecacatan dan kematian. Imunisasi dianggap sebagai upaya kesehatan yang paling efektif. Orang tua diharapkan melengkapi imunisasi anak mereka agar seluruh anak Indonesia terbebas dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah lewat imunisasi. 

Imunisasi melindungi anak-anak dari beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan, bahkan kematian. Jadi, imunisasi adalah salah satu langkah tepat bagi orang tua untuk menjamin kesehatan anaknya. Lebih lanjut, imunisasi tidak membutuhkan biaya besar, bahkan di Posyandu anak-anak mendapatkan imunisasi secara gratis. 

Ada lima (5) jenis imunisasi yang diberikan secara gratis di Posyandu, yang terdiri dari imunisasi Hepatitis B, BCG, Polio, DPT-HB, serta campak. Semua jenis vaksin ini harus diberikan secara lengkap sebelum anak berusia 1 tahun diikuti dengan imunisasi lanjutan pada Batita. Tahun 2013 pemerintah telah menambahkan vaksin Hib (Haemophilus influenza tipe b), yang digabungkan dengan vaksin DPT-HB menjadi DPT-HB-Hib. Imunisasi DPT-HB-Hib dan imunisasi lanjutan pada Batita mulai dilaksanakan pada tahun 2013 di 4 provinsi yaitu: Jawa Barat, Yogyakarta, Bali dan NTB. Selanjutnya, akan dilaksanakan di semua provinsi mulai bulan April tahun 2014. 

  • Vaksin Hepatitis B diberikan pada bayi baru lahir untuk mencegah penularan Hepatitis B dari ibu ke anak pada proses kelahiran, karena tidak semua ibu tahu apakah dirinya terinfeksi Hepatitis B atau tidak. Hepatitis B dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati.
  • Vaksin BCG diberikan satu kali pada usia 1 bulan guna mencegah kuman tuberkulosis menyerang paru, kelenjar, tulang dan radang otak yang bisa menimbulkan kematian atau kecacatan
  • Vaksin Polio diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan guna mencegah lumpuh layu. Sekali anak terkena lumpuh layu pada kaki dan/atau tangan, maka tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya. Bahkan kadang dapat menyebabkan kelumpuhan otot pernafasan yang menyebabkan kematian.
  • Vaksin Campak diberikan dua kali pada usia 9 bulan dan 24 bulan  untuk mencegah penyakit campak berat yang dapat mengakibatkan radang   paru berat (pneumonia), diare atau menyerang otak.
  • Vaksin DPT-HB-Hib diberikan 4 kali, pada usia 2, 3, 4 dan 18 bulan guna mencegah 6 penyakit, yaitu: Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Pneumonia (radang paru) dan Meningitis (radang otak). Penyakit Difteri dapat menyebabkan pembengkakan dan sumbatan jalan nafas, serta mengeluarkan racun yang dapat melumpuhkan otot jantung. Penyakit Pertusis berat dapat menyebabkan infeksi saluran nafas berat (pneumonia). Kuman Tetanus mengeluarkan racun yang menyerang syaraf otot tubuh, sehingga otot menjadi kaku, sulit bergerak dan sulit bernafas.  Kuman Haemophilus influenza tipe b dapat menyebabkan Pneumonia  dan Meningitis.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email kontak@depkes.go.id

ASKEP MENINGITIS (RADANG PADA MENINGEN)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MENINGITIS

A.    Definisi
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).

B.    Etiologi
1.    Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa
2.    Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia
3.    Faktor predisposisi : jenis kelamin lakilaki lebih sering dibandingkan dengan wanita
4.    Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan
5.    Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.
6.    Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan


C.    Klasifikasi
Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu :
1.    Meningitis serosa
Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
2.    Meningitis purulenta
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.

C.    Patofisiologi
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas.
Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.
Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.

D.    Manifestasi klinis
Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :
1.    Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering)
2.    Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.
3.    Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb:
a)    Rigiditas nukal ( kaku leher ). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.
b)    Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.
c)    Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.
4.    Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.
5.    Kejang akibat area  fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
6.    Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
7.    Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata

E.    Pemeriksaan Diagnostik
1.    Analisis CSS dari fungsi lumbal :
a)    Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri.
b)    Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.
2.    Glukosa serum : meningkat ( meningitis )
3.    LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri )
4.    Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri )
5.    Elektrolit darah : Abnormal .
6.    ESR/LED :  meningkat pada meningitis
7.    Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi
8.    MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor
9.    Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.

F.    Komplikasi
1.    Hidrosefalus obstruktif
2.    MeningococcL Septicemia ( mengingocemia )
3.    Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral)
4.    SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone )
5.    Efusi subdural
6.    Kejang
7.    Edema dan herniasi serebral
8.    Cerebral palsy
9.    Gangguan mental
10.    Gangguan belajar
11.    Attention deficit disorder
.
G.    Asuhan Keperawatan
1.    Pengkajian
a)    Biodata klien
b)    Riwayat kesehatan yang lalu
(1)    Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ?
(2)    Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?
(3)    Pernahkah operasi daerah kepala ?
c)    Riwayat kesehatan sekarang
(1)    Aktivitas
Gejala : Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.
(2)    Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi, disritmia.
(3)    Eliminasi
Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.
(4)    Makanan/cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.
(5)    Higiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.


(6)    Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman. Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.
(7)    Nyeri/keamanan
Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah,  menangis.
(8)    Pernafasan
Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

2.    Diagnosa keperawatan
a)    Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen
b)    Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia.
c)    Risisko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan umum, vertigo.
d)    Nyeri (akut) sehubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi.
e)    Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan
f)    Anxietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.



3.    Intervensi keperawatan
a)    Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen.
Mandiri
    Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan
    Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat.
    Pantau suhu secara teratur
    Kaji keluhan nyeri dada, nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus
    Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nfas dalam
    Cacat karakteristik urine (warna, kejernihan dan bau )
Kolaborasi
    Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin.

b)    Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia.
Mandiri
    Tirah baring dengan posisi kepala datar.
    Pantau status neurologis.
    Kaji regiditas nukal, peka rangsang dan kejang
    Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, penafasan, suhu, masukan dan haluaran.
    Bantu berkemih, membatasi batuk, muntah mengejan.
Kolaborasi.
    Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat.
    Berikan cairan iv (larutan hipertonik, elektrolit ).
    Pantau BGA.
    Berikan obat : steoid, clorpomasin, asetaminofen

c)    Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal, kelemahan umum vertigo.
Mandiri
    Pantau adanya kejang
    Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan
    Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin, diaepam, venobarbital.

d)    Nyeri (akut ) sehubungan dengan proses infeksi, toksin dalam sirkulasi.
Mandiri.
    Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau pasif dan masage otot leher.
    Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi)
    Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif.
    Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul
Kolaborasi
    Berikan anal getik, asetaminofen,  codein

e)    Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
    Kaji derajat imobilisasi pasien.
    Bantu latihan rentang gerak.
    Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab.
    Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan, berikan matras udsra atau air perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional.
    Berikan program latihan dan penggunaan alat mobiluisasi.



f)    Perubahan persepsi sensori sehubungan dengan defisit neurologis
    Pantau perubahan orientasi, kemamapuan berbicara,alam perasaaan, sensorik dan proses pikir.
    Kaji kesadara sensorik : sentuhan, panas, dingin.
    Observasi respons perilaku.
    Hilangkan suara bising yang berlebihan.
    Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik.
    Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas.
    Kolaborasi ahli fisioterapi, terapi okupasi,wicara dan kognitif.

g)    Ansietas sehubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.
    Kaji status mental dan tingkat ansietasnya.
    Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur.
    Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.
    Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.
H.    Evaluasi
Hasil yang diharapkan
1.    Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.
2.    Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik, mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.
3.    Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain.
4.    Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.
5.    Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan.
6.    Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi.
7.    Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.

DAFTAR PUSTAKA


1.    Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa, I Made Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin asih. Ed.3. Jakarta : EGC.

2.    Harsono.(1996).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

3.    Smeltzer, Suzanne C & Bare,Brenda G.(2001).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Alih bahasa, Agung Waluyo,dkk.Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester.Ed.8.Jakarta : EGC.

4.    Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998.

5.    Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994.

6.    Long, Barbara C. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan; 1996.

ASKEP TUMOR OTAK

BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar belakang
Tumor otak atau tumor intrakranial adalah neoplasma atau proses desak ruang (space occupying lesion) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen supratentorial maupun infratentorial, mencakup tumor-tumor primer pada korteks, meningen, vaskuler, kelenjar hipofise, epifise, saraf otak, jaringan penyangga, serta tumor metastasis dari bagian tubuh lainnya.
Tumor otak primer menunjukkan kira-kira 20% dari semua penyebab kematian karena kanker, dimana sekitar 20% sampai 40% dari semua kanker pasien mengalami metastase ke otak dari tempat-tempat lain. Tumor-tumor otak jarang bermetastase keluar sistem saraf pusat tetapi jejas metastase ke otak biasanya dari paru-paru, payudara, saluran gastrointestinal bagian bawah, pankreas, ginjal dan kulit (melanoma). Insiden tertinggi  pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade kelima, keenam dan ketujuh, dengan tingginya insiden pada pria. Pada usia dewasa, tumor otak banyak dimulai dari sel glia (sel glia membuat struktur dan mendukung sistem otak dan medula spinalis) dan merupakan supratentorial (terletak diatas penutup cerebellum). Jejas neoplastik di dalam otak akhirnya menyebabkan kematian yang mengganggu fungsi vital, seperti pernafasan dan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
Peningkatan intra kranial ( PTIK ) dapat terjadi bila kenaikan yang relatif kecil dari volume otak, keadaan ini tidak akan cepat menyebabkan tekanan tinggi intrakranial, sebab volume yang meninggi ini dapat dikompensasi dengan memindahkan cairan serebrospinal dari rongga tengkorak ke kanalis spinalis dan volume darah intrakranial akan menurun oleh karena berkurangnya peregangan durameter. Hubungan antara tekanan dan volume ini dikenal dengan complience. Jadi jika otak, darah dan cairan serebrospinal volumenya terus menerus meninggi, maka mekanisme penyesuaian ini akan gagal dan terjadi peningkatan intrakranial yang mengakibatkan herniasi dengan gagal pernapasan dan gagal jantung serta kematian.



2.    Tujuan Penulisan
a.    Tujuan Umum
Setelah membahas makalah “Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien Tumor Otak”, mahasiswa mampu menerapkan pengetahuan mereka tentang cara – cara menangani pasien dengan tumor otak sesuai Asuhan Keperawatan yang telah ditegakkan.
b.    Tujuan Khusus
Setelah membahas makalah “Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien Tumor Otak”, mahasiswa mampu :
-    Memahami Konsep Penyakit Tumor Otak
-    Memahami masalah kesehatan pada pasien tumor otak
-    Memahami dan mengetahui Konsep Asuhan Keperawatan untuk pasien pengidap penyakit tumor otak.
-    Mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien pengidap penyakit tumor otak
3.    Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini kami menggunakan metode deskriptif yang menjelaskan tentang konsep penyakit tumor otak serta asuhan keperawatan yang bisa dilakukan pada pasien pengidap penyakit tumor otak.
4.    Sistematika Penulisan
BAB I     :     PENDAHULUAN. Terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan
BAB II     :     TINJAUAN TEORI, Terdiri dari Konsep tumbang, Masalah pada Neonatus, dan Asuhan keperawatan Neonatus
BAB III     :     PENUTUP. Terdiri dari Kesimpulan dan Saran.






BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    KONSEP PENYAKIT TUMOR OTAK
1.    Definisi
Sebuah tumor otak merupakan sebuah lesi yang terletak pada intrakarnial yang menempati ruang didalam tengkorak. Tumor-tumor selalu bertumbuh sebagai sebuah massa yang berbentuk bola tetapi juga dapat tumbuh menyebar, masuk kedalam jaringan. Neoplasma terjadi akibat dari kompresi dan infiltrasi jaringan. Akibat perubahan fisik bervariasi, yang menyebabkan beberapa atau semua kejadian patofisiologis sebagai berikut:
    Peningkatan tekanan intrakranial dan edema cerebral
    Aktivitas kejang dan tanda-tanda neurologis fokal
    Hidrosefalus
    Gangguan fungsi hipofisis
Tumor otak primer menunjukkan kira-kira 20% dari semua penyebab kematian karena kanker, dimana sekitar 20% sampai 40% dari semua kanker pasien mengalami metastase ke otak dari tempat-tempat lain. Tumor-tumor otak jarang bermetastase keluar sistem saraf pusat tetapi jejas metastase ke otak biasanya dari paru-paru, payudara, saluran gastrointestinal bagian bawah, pankreas, ginjal dan kulit (melanoma).
Insiden tertinggi pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade kelima, keenam dan ketujuh, dengan tingginya insiden pada pria. Pada usia dewasa, tumor otak banyak dimulai dari sel glia (sel glia membuat struktur dan mendukung sistem otak dan medula spinalis) dan merupakan supratentorial (terletak diatas penutup cerebellum). Jejas neoplastik di dalam otak akhirnya menyebabkan kematian yang mengganggu fungsi vital, seperti pernafasan dan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
 (Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth, 2001, Jakarta : EGC. Hal: 2167)



2.    Etiologi
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel manusia memiliki mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA kromosom, kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat memicu terjadinya kanker.
Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :
•    Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
•    Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
•    Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
•    Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
•    Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik sepertimethylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.
3.    Jenis – jenis Tumor
Tumor yang jinak atau yang tidak ganas (non malignant) lambat tumbuhnya, tidak menyebar, dan biasanya dikelilingi oleh penutup atau kapsul. Pertumbuhan yang seperti itu bisa disebut sebagai enkapsuleted tumor atau tumor terbungkus. Tumor yang tidak ganas bisa dicabut dengan cara pembedahan, terutama bila tumor itu menyebabkan organ – organ tubuh yang vital terdesak atau tertekan. Jika tumor yang tidak ganas dicabut, tidak ada kemungkinan baginya tubuh untuk tumbuh lagi.
Tumor ganas disebut sebagai kanker atau malignancy (cepat menjalar ke bagian tubuh yang lain). Tumbuhnya cepat, tidak dikelillingi oleh penutup, dan menyebar ke bagian – bagian tubuh yang lain. Sel – sel yang abnormal ini menyerang jaringan – jaringan yang berdekatan. Kanker ganas itu dibawa pula ke bagian – bagian tubuh yang lain oleh getah bening dan darah. Pemindahan sel – sel ganas ke bagian – bagian tubuh yang lain ini disebut metastasis. Tumbuhan baru yang dimulai dari sel – sel bawaan ini disebut sebagai pertumbuhan metastasis atau tumbuhan kedua (tumor kedua anak tumor). Pertumbuhan sel – sel tubuh yang cepat dan tak terkendali ini pada akhirnya mengancam keselamatan jiwa orang itu sendiri.
(dr. H. Mohamad Isa. Perawatan Penyakit Dalam & Bedah. Pusat Pendidikan Pegawai Departemen Kesehatan R.I. : Jakarta. Hal. 41)
a.    Tumor benigna
Tumor ini dapat timbul dari sebagian besar jaringan tubuh.
1.    Sel-sel epitel atau endotel
Papiloma timbul dari sel-sel ini, misalnya kulit, kandung kemih, kolon. Tumor ini bisa menjadi ganas.
2.    Sel-sel pigmen kulit naevus (tahi lalat)
3.    Kelenjar adenoma : payudara, parotis, tiroid.
4.    Pembuluh darah-hemamioma : dua tipe.
a.    Kapiler : tanda lahir ; “portwine stain”
b.    Kavernosus : nodulus berwarna ungu yang memucat bila ditekan
5.    Jaringan fibrosis – fibroma : terlihat sebagai nodulus. Pada sebagian besar keadaan dapat timbul.
6.    Lemak – glikoma : benjolan lunak, paling sering subkutan.
7.    Osteoma tumor pada tulang rawan dan tulang biasa
8.    Chondroma
9.    Myoma : tumor otot biasa, tempat yang paling sering terkena adalah uterus
b.    Tumor maligna
1.    Sel sel epitel atau endotel.
a.    Karsinoma : karsinoma diberi nama menurut jaringan asalnya, misalnya karsinoma skuamosa kulit. Transitional sel karsinoma pada kandung kemih.
b.    Melanoma : tumor maligna sel – sel pigmen kulit
2.    Jaringan kelenjar : adenokarsinoma, misalnya payudara atau lambung.
3.    Jaringan ikat : sarkoma – keadaan ini lebih jarang ditemukan. Fibrosarkoma dari jaringan fibrosus, sarkoma osteogenik dari tulang, myosarkoma dari otot.
4.    Kelenjar limfe. Ragam penyakit keganasan (maligna) ditemukan pada jaringan limfoit (jaringan retikulo endotelial) dengan berbagai derajat keganasan, misalnya limfoma, retikulo sarkoma, penyakit Hodgkin.
5.    Leukimia. Penyakit maligna pada sel – sel induk yang menghasilkan sel – sel darah putih.
4.    Patofisiologi
Tumor intrakranial menyebabkan gangguan neurologis progresif. Gangguan neurologis pada tumor intrakranial biasanya dianggap disebabkan karena 2 faktor, yaitu gangguan vokal olah tumor dan peningkatan intrakranial.
Gangguan vokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. Tentu saja dispensi yang paling besar terjadi pada tumor yang tumbuh paling cepat (misalnya, gliobastoma multiform). Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron dihubungkan dengan kompresi, invasi dan perubahan suplai darah kejaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan neurologis vokal. Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor:
1.    Bertambahnya massa dalam tengkorak.
2.    Terbentuknya edema sekitar tumor.
3.    Perubahan sirkulasi cairan cerebrospinal.
Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa karena tumor akan mengmbil tempat dalam ruang yang relatif tetap dan ruangan kranial yang kaku.
Tumor ganas menimbulkan edema dalam jaringan otak di sekitrnya. Mekanisnya belum sepenuhnya dipahami, tetapi diduga disebabkan oleh selisih osmotik yang menyebabkan penyerapan cairan tumor. Beberapa tumor menyebabkan pendarahan. Obstruksi vena dan edema yang disebabkan oleh sawar darah otak, semuanya menimbulkan peningkatan volume intrakranial dan menyebabkan tekanan intrakranial. Obstruksi sirkulasi cairan cerebrospinal dari ventrikel lateral ke ruangan subarakhnoid menimbulkan hidrosefalus.
Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa bila terjadi cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari atau berbulan-bulan unutk menjadi effektif oleh karen aitu tidak berguna apabila tekanan itrakranial timbul dengan cepat. Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah intrakranial, volume cairan cerebrospinal, kandungan cairan intra sel, dan mengurangi sel-sel parenkim.
Peningkatan tekanan yang tidak di obati mengakibatkan herniasi unkus atau cerebelum. Herniasi unkus timbul bila girus medialis lobus temporalis tergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh masa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan mesen sefalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf kranial ketiga. Pada herniasi cerebelum, tonsil cerebelum bergeser kebawah melalui foramen magnum oleh suatu masa posterior. Kompresi medula oblongata dan henti pernafasan terjadi dengan cepat. Perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan intrakranial yang cepat adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik (pelebran tekanan nadi), dan gangguan pernafasan.
(Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan, Muttaqin Ariff, 2008, Jakarta: Salemba Medika. Halaman : 477-478)
5.    Tanda dan Gejala
Gejala umum yang terjadi disebabkan karena gangguan fungsi serebral akibat edema otak dan tekanan intrakranial yang meningkat. Gejala spesifik terjadi akibat destruksi dan kompresi jaringan saraf, bisa berupa nyeri kepala, muntah, kejang, penurunan kesadaran, gangguan mental, gangguan visual dan sebagainya. Edema papil dan defisit neurologis lain biasanya ditemukan pada stadium yang lebih lanjut. Gejala-gejala tumor otak dapat meliputi, antara lain:
•    Nyeri Kepala (Headache)
Nyeri kepala biasanya terlokalisir, tapi bisa juga menyeluruh. Biasanya muncul pada pagi hari setelah bangun tidur dan berlangsung beberapa waktu, datang pergi (rekuren) dengan interval tak teratur beberapa menit sampai beberapa jam. Serangan semakin lama semakin sering dengan interval semakin pendek. Nyeri kepala ini bertambah hebat pada waktu penderita batuk, bersin atau mengejan (misalnya waktu buang air besar atau koitus). Nyeri kepaia juga bertambah berat waktu posisi berbaring, dan berkurang bila duduk. Penyebab nyeri kepala ini diduga akibat tarikan (traksi) pada pain sensitive structure seperti dura, pembuluh darah atau serabut saraf. Nyeri kepala merupakan gejala permulaan dari tumor otak yang berlokasi di daerah lobus oksipitalis.
•    Muntah
Lebih jarang dibanding dengan nyeri kepala. Muntah biasanya proyektil (menyemprot) tanpa didahului rasa mual, dan jarang terjadi tanpa disertai nyeri kepala.
•    Edema Papil
Keadaan ini bisa terlihat dengan pemeriksaan funduskopi menggunakan oftalmoskop. Gambarannya berupa kaburnya batas papil, warna papil berubah menjadi lebih kemerahan dan pucat, pembuluh darah melebar atau kadang-kadang tampak terputus-putus. Untuk mengetahui gambaran edema papil seharusnya kita sudah mengetahui gambaran papil normal terlcbih dahulu. Penyebab edema papil ini masih diperdebatkan, tapi diduga akibat penekanan terhadap vena sentralis retinae. Biasanya terjadi bila tumor yang lokasi atau pembesarannya menckan jalan aliran likuor sehingga mengakibatkan bendungan dan terjadi hidrocepallus.


•    Kejang
Ini terjadi bila tumor berada di hemisfer serebri serta merangsang korteks motorik. Kejang yang sifatnya lokal sukar dibedakan dengan kejang akibat lesi otak lainnya, sedang kejang yang sifatnya umum atau general sukar dibedakan dengan kejang karena epilepsi. Tapi bila kejang terjadi pertama kali pada usia dekade III dari kehidupan harus diwaspadai kemungkinan adanya tumor otak.
6.    Komplikasi
a.    Ganguan Fungsi Luhur
•    Komplikasi tumor otak yang paling ditakuti selain kematian adalah gangguan fungsi luhur. Gangguan ini sering diistilahkan dengan gangguan kognitif dan neurobehavior sehubungan dengan kerusakan fungsi pada area otak yang ditumbuhi tumor atau terkena pembedahan maupun radioterapi.
•    Neurobehavior adalah keterkaitan perilaku dengan fungsi kognitif dan lokasi / lesi tertentu di otak. Pengaruh negatif tumor otak adalah gangguan fisik neurologist, gangguan kognitif, gangguan tidur dan mood, disfungsi seksual serta fatique.
•    Gangguan kognitif yang dialami pasien tumor otak bisa dievaluasi dengan berbagai tes. Di antaranya adalah Sickness Impact Profile, Minesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), dan Mini mental State Examination (MMSE). Komponen kognitif yang dievaluasi adalah kesadaran, orientasi lingkungan, level aktivitas, kemampuan bicara dan bahasa, memori dan kemampuan berpikir, emosional afeksi serta persepsi.
b.    Ganguan Wicara
•    Gangguan wicara sering menjadi komplikasi pasien tumor otak. Dalam hal ini kita mengenal istilah disartria dan aphasia.
•    Disartria adalah gangguan wicara karena kerusakan di otak atau neuromuscular perifer yang bertanggung jawab dalam proses bicara. Tiga langkah yang menjadi prinsip dalam terapi disartria adalah meningkatkan kemampuan verbal, mengoptimalkan fonasi, serta memperbaiki suara normal.
•    Afasia merupakan gangguan bahasa, bisa berbentuk afasia motorik atau sensorik tergantung dari area pusat bahasa di otak yang mengalami kerusakan. Fungsi bahasa yang terlibat adalah kelancaran (fluency), keterpaduan (komprehensi) dan pengulangan (repetitif). Pendekatan terapi untuk afasia meliputi perbaikan fungsi dalam berkomunikasi, mengurangi ketergantungan pada lingkungan dan memastikan sinyal-sinyal komunikasi serta menyediakan peralatan yang mendukung terapi dan metode alternatif. Terapi wicara terdiri atas dua komponen yaitu bicara prefocal dan latihan menelan.
c.    Ganguan Pola Makan
•    Disfagi merupakan komplikasi lain dari penderita ini yaitu ketidakmampuan menelan makanan karena hilangnya refleks menelan. Gangguan bisa terjadi di fase oral, pharingeal atau oesophageal. Komplikasi ini akan menyebabkan terhambatnya asupan nutrisi bagi penderita serta berisiko aspirasi pula karena muntahnya makanan ke paru. Etiologi yang mungkin adalah parese nervus glossopharynx dan nervus vagus. Bisa juga karena komplikasi radioterapi.
•    Diagnosis ditegakkan dengan videofluoroscopy. Gejala ini sering bersamaan dengan dispepsia karena space occupying process dan kemoterapi yang menyebabkan hilangnya selera makan serta iritasi lambung. Terapi untuk gejala ini adalah dengan sonde lambung untuk pemberian nutrisi enteral, stimulasi, dan modifikasi kepadatan makanan (makanan yang dipilih lebih cair/lunak).
d.    Kelemahan Otot
•    Kelemahan otot pada pasien tumor otak umumnya dan yang mengenai saraf khususnya ditandai dengan hemiparesis, paraparesis dan tetraparesis. Pendekatan terapi yang dilakukan menggunakan prinsip stimulasi neuromusculer dan inhibisi spastisitas. Cara lain adalah dengan EMG biofeedback, latihan kekuatan otot, koordinasi endurasi dan pergerakan sendi.
e.    Ganguan Penglihatan Dan Pendengaran
•    Tumor otak yang merusak saraf yang terhubung ke mata atau bagian dari otak yang memproses informasi visual (visual korteks) dapat menyebabkan masalah penglihatan, seperti penglihatan ganda atau penurunan lapang pandang.
•    Tumor otak yang mempengaruhi saraf pendengaran - terutama neuromas akustik - dapat menyebabkan gangguan pendengaran di telinga pada sisi yang terlibat otak.
f.    Stroke
•    Seseorang dengan stroke memiliki gangguan dalam suplai darah ke area otak, yang menyebabkan otak tidak berfungsi. Otak sangat sensitif terhadap setiap gangguan dalam aliran darah. Sel-sel otak mulai mati dalam beberapa menit kehilangan pasokan oksigen dan glukosa.
•    Para gangguan aliran darah dapat terjadi oleh salah satu dari dua mekanisme, yaitu hemorrhagic stroke disebabkan oleh perdarahan dari pembuluh darah kecil yang memasok darah ke otak dan Stroke iskemik disebabkan oleh bekuan darah yang menghalangi aliran darah melalui arteri yang memasok darah ke otak. Ada dua jenis stroke iskemik: Stroke trombotik stroke dan emboli. stroke trombotik disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di dalam arteri otak.  stroke emboli disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di luar pembuluh darah otak, kemudian gumpalan darah itu berjalan melaui aliran darah dan sampai pada pembuluh darah otak, gumpalan darah ini selanjutnya menyumbat suplay darah ke otak.
•    Pada tumor otak, komplikasi stroke yang timbul dapat berupa Hemorrhagic stroke yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah otak yang tertekan akibat pembesaran tumor.
g.    Epilepsi
•    Kejadian sekitar 30% dari tumor otak. Alasannya sebagian besar disebabkan karena rangsangan langsung atau represi dari tumor yang menyebabkan ganguan listrik pada otak dan juga  tumor otak dapat menyebabkan iritasi pada otak yang dapat menyebabkan kejang
h.    Depresi
•    Depresi dapat disebabkan karena tumor pada pusat emosi (system limbic) atau karena keadaan klinis yang disebabkan oleh tumor tersebut, Gejala yang timbul dapat berupa menangis terus-menerus, kesedihan yang mendalam, social withdrawal, Mudah marah, kecemasan, penurunan libido, gangguan tidur, tingkah laku yang tidak wajar. Dapat juga karena efek steroid : mood and sleep changes, ganguan bipolar (manicdepression).
i.    Hidrosephalus
•    Hidrosephalus terjadi apabila tumor yang terbentuk menghalangi aliran LCS, akibatnya aliran LCS akan terhambat dan mengakibatkan terbentuknya hidrosephalus. Selain itu peningkatan tekanan intrakranial juga dapat menghambat aliran LCS.

j.    Cerebral Hernia
•    Cerebral hernia adalah kondisi, progresif fatal di mana otak terpaksa melalui pembukaan dalam tengkorak.
•    Tumor otak akan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, yang kemudian menyebabkan penggeseran parenkim otak ke foramen Magnum atau transtentorial
k.    Ganguan Seksualitas
•    Tumor otak sendiri dapat mempengaruhi seksualitas, terutama jika tumor melibatkan daerah otak yang mengontrol pelepasan hormon yang mempengaruhi libido, termasuk estrogen, progesteron testosteron, dan. Daerah-daerah yang sama dari otak dapat rusak oleh terapi radiasi, yang yang dapat juga mengurangi kesuburan dan libido selain itu dapat pula menyababkan menopouse dini.
l.    Terbentuknya Gumpalan Darah
•    Adanya Tumor otak mempunyai resiko tinggi terjadinya pembekuan darah. Pembekuan ini disebut "trombosis vena dalam" (DVT) dan terjadi di pembuluh darah kaki. Gejala yang DVT meliputi nyeri betis, bengkak, dan perubahan warna kaki, meskipun itu DVT juga bisa terjadi tanpa gejala. Bahaya itu DVT adalah bahwa mereka dapat pecah dan dibawa oleh aliran darah ke paru-paru, di mana mereka menyebabkan "thromboemboli paru" (PTE) pembekuan darah di arteri paru.
7.    Pemeriksaan Penunjang
Adapun beberapa pemeriksaan penunjang untuk penyakit tumor otak antara lain :
•    Computer Tomografik Scaning (CT SCAN) : CT SCAN digunakan lebih baik dari pada X- Ray, CT SCAN dapat memberikan informasi tentang jumlah, ukuran, dan densitas (warna gelap/terang) tumor, dapat memberikan informasi sistem ventrikuler.
•    Magnetic Resonance Imaging (MRI) : MRI sangat penting untuk mendiagnosa tumor sampai lesi terkecil dan tumor pada batang otak dan pituitary.
•    Elektroensefalogram (EEG) : dapat mendeteksi gelombang abnormal pada otak yang disebabkan tumor hal ini dapat mengevaluasi kajang yang ditimbulkan karena gangguan pada lobus temporal.
•    Stereotatic Radiosurgery : meliputi penggunaan kerangka tiga dimensi yang meliputi lokasi tumor yang sangat tepat, kerangka Stereotatic dan dan study pencitraan multipel (sinar – x) cara yang digunakan untuk menemukam tumor dan lokasinya.
•    Pemeriksaan cytologi : dapat mendeteksi keganasan pada sel yang disebabkan tumor sistem saraf pusat.
•    Foto polos dada
Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu metastasis yang akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun multiple pada otak.
•    Pemeriksaan cairan serebrospinal
Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor. Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui pemeriksaan patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor dengan proses-proses infeksi (abses cerebri).
•    Biopsi stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
•    Angiografi Serebral
Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.
8.    Penatalaksanaan Medis
Orang dengan tumor otak memiliki beberapa pilihan pengobatan. Tergantung pada jenis dan stadium tumor, pasien dapat diobati dengan operasi pembedahan, radioterapi, atau kemoterapi. Beberapa pasien menerima kombinasi dari perawatan diatas.
Selain itu, pada setiap tahapan penyakit, pasien mungkin menjalani pengobatan untuk mengendalikan rasa nyeri dari kanker, untuk meringankan efek samping dari terapi, dan untuk meringankan masalah emosional. Jenis pengobatan ini disebut perawatan paliatif.
a.    Pembedahan
Pembedahan adalah pengobatan yang paling umum untuk tumor otak. Tujuannya adalah untuk mengangkat sebanyak tumor dan meminimalisir sebisa mungkin peluang kehilangan fungsi otak.
Operasi untuk membuka tulang tengkorak disebut kraniotomi. Hal ini dilakukan dengan anestesi umum. Sebelum operasi dimulai, rambut kepala dicukur. Ahli bedah kemudian membuat sayatan di kulit kepala menggunakan sejenis gergaji khusus untuk mengangkat sepotong tulang dari tengkorak. Setelah menghapus sebagian atau seluruh tumor, ahli bedah menutup kembali bukaan tersebut dengan potongan tulang tadi, sepotong metal atau bahan. Ahli bedah kemudian menutup sayatan di kulit kepala. Beberapa ahli bedah dapat menggunakan saluran yang ditempatkan di bawah kulit kepala selama satu atau dua hari setelah operasi untuk meminimalkan akumulasi darah atau cairan.
Efek samping yang mungkin timbul pasca operasi pembedahan tumor otak adalah sakit kepala atau rasa tidak nyaman selama beberapa hari pertama setelah operasi. Dalam hal ini dapat diberikan obat sakit kepala. Masalah lain yang kurang umum yang dapat terjadi adalah menumpuknya cairan cerebrospinal di otak yang mengakibatkan pembengkakan otak (edema). Biasanya pasien diberikan steroid untuk meringankan pembengkakan. Sebuah operasi kedua mungkin diperlukan untuk mengalirkan cairan. Dokter bedah dapat menempatkan sebuah tabung, panjang dan tipis (shunt) dalam ventrikel otak. Tabung ini diletakkan di bawah kulit ke bagian lain dari tubuh, biasanya perut. Kelebihan cairan dari otak dialirkan ke perut. Kadang-kadang cairan dialirkan ke jantung sebagai gantinya.
Infeksi adalah masalah lain yang dapat berkembang setelah operasi (diobati dengan antibiotic). Operasi otak dapat merusak jaringan normal. kerusakan otak bisa menjadi masalah serius. Pasien mungkin memiliki masalah berpikir, melihat, atau berbicara. Pasien juga mungkin mengalami perubahan kepribadian atau kejang. Sebagian besar masalah ini berkurang dengan berlalunya waktu. Tetapi kadang-kadang kerusakan otak bisa permanen. Pasien mungkin memerlukan terapi fisik, terapi bicara, atau terapi kerja.
b.    Radiosurgery stereotactic
Radiosurgery stereotactic adalah tehnik "knifeless" yang lebih baru untuk menghancurkan tumor otak tanpa membuka tengkorak. CT scan atau MRI digunakan untuk menentukan lokasi yang tepat dari tumor di otak. Energi radiasi tingkat tinggi diarahkan ke tumornya dari berbagai sudut untuk menghancurkan tumornya. Alatnya bervariasi, mulai dari penggunaan pisau gamma, atau akselerator linier dengan foton, ataupun sinar proton.
Kelebihan dari prosedur knifeless ini adalah memperkecil kemungkinan komplikasi pada pasien dan memperpendek waktu pemulihan. Kekurangannya adalah tidak adanya sample jaringan tumor yang dapat diteliti lebih lanjut oleh ahli patologi, serta pembengkakan otak yang dapat terjadi setelah radioterapi.
Kadang-kadang operasi tidak dimungkinkan. Jika tumor terjadi di batang otak (brainstem) atau daerah-daerah tertentu lainnya, ahli bedah tidak mungkin dapat mengangkat tumor tanpa merusak jaringan otak normal. Dalam hal ini pasien dapat menerima radioterapi atau perawatan lainnya.
c.    Radioterapi
Radioterapi menggunakan X-ray untuk membunuh sel-sel tumor. Sebuah mesin besar diarahkan pada tumor dan jaringan di dekatnya. Mungkin kadang radiasi diarahkan ke seluruh otak atau ke syaraf tulang belakang.
Radioterapi biasanya dilakukan sesudah operasi. Radiasi membunuh sel-sel tumor (sisa) yang mungkin tidak dapat diangkat melalui operasi. Radiasi juga dapat dilakukan sebagai terapi pengganti operasi. Jadwal pengobatan tergantung pada jenis dan ukuran tumor serta usia pasien. Setiap sesi radioterapi biasanya hanya berlangsung beberapa menit.
d.    Kemoterapi
Kemoterapi yaitu penggunaan satu atau lebih obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi diberikan secara oral atau dengan infus intravena ke seluruh tubuh. Obat-obatan biasanya diberikan dalam 2-4 siklus yang meliputi periode pengobatan dan periode pemulihan.
Dua jenis obat kemoterapi, yaitu: temozolomide (Temodar) dan bevacizumab (Avastin), baru-baru ini telah mendapat persetujuan untuk pengobatan glioma ganas. Mereka lebih efektif, dan memiliki efek samping lebih sedikit jika dibandingkan dengan obat-obatan kemo versi lama. Temozolomide memiliki keunggulan lain, yaitu bisa secara oral.
Untuk beberapa pasien dengan kasus kanker otak kambuhan, ahli bedah biasanya melakukan operasi pengangkatan tumor dan kemudian melakukan implantasi wafer yang mengandung obat kemoterapi. Selama beberapa minggu, wafer larut, melepaskan obat ke otak. Obat tersebut kemudian membunuh sel kankernya.


B.    Asuhan Keperawatan Teoritis Tumor Otak
1.    Pemeriksaan fisik
a.    BI (Breathing)
Inspeksi : pada keadaan lanjut yang disebabkan adanya kompresi pada medula oblongata didapatkan adanya kegagalan pernapasan.
Pada klien tanpa kompresi medula oblongata pada pengkajian inspeksi pernapasan tidak ada kelainan. Palpasi toraks didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi tidak di dapatkan bunyi napas tambahan.
b.    B2 (Blood)
Pada keadaan lanjut yang disebabkan adanya kompresi pada medula oblongata didapatkan adanya kegagalan sirkulasi. Pada klien tanpa kompresi medula oblongata pada pengkajian tidak ada kelainan. Tekanan darah biasanya normal, dan tidak ada peningkatan heart rate.
c.    B3 (Brain)
Tumor intrakranial sering menyebabkan berbagai defisit neurologis, bergantung pada gangguan fokal dan adanya peningkatan intrakranial . pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap di bandingkan pengkajian pada sistem lainnya. Trias Klasik tumor otak adalan nyeri kepala, muntah, dan papiledema. Pengkajian tingkat kesadaran. Kualitas kesadaran klien merupakan parameter yang paling mendasar dan parameter yang paling penting yang membutuhkan pengkajian. Tingkat keterjagaan klien dan respon terhadap lingkungan adalah indikator paling sensitif untuk disfungsi sistem persarafan. Beberapa sistem digunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam kewaspadaan dan keterjagaan.
Pada keadaan lanjut tingkat kesadarn klien tmor intrakranial biasanya berkisar pada tingkat letargi, stupor, dann semikomatosa. Jika klien sudah mengalami koma, penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk pemantauan pemberian asuhan.
Pengkajian fungsi serebral. Pengkajian ini meliputi status mental, fungsi intelektual, dan lobus frontal.
•    Status mental. Observasi penampilan, tingkah laku, nilai gaya bicara, ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien. Pada klien tumor intarkranial tahap lanjut biasanya status mental klien menglami perubahan.
•    Fungsi intelektual. Didapatkan penurunan dalam ingatan dan memori, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penurunan kemampuan berhitung dan kalkulasi. Pada beberapa kasus klien mengalami ‘brain damage’ yaitu kesulitan untuk mengenal persamaan dan perbedaan yang tidak begitu nyata.
•    Lobus Frontal. Tumor lobus frontalis memberi gejala perubahan menta, hemiparesis, ataksia, dan gangguan bicara.
Perubahan mental bermanifestasi sebagai perubahan ringan daam kepribadian. Beberapa klien mengalami periode depresi, bingung, atau periode ketika tingkah laku klien menjadi aneh.
Perubahan yang paling sering  adalah perubahan dalam memberi argumentasi yang sulit  dari perubahan dalam memberi penilaian tentang benar dan salah. Hemiparesis disebabkan oleh tekanan pada area dan lintasan motorik di dekat tumor.
Jika area motorik terlibat, akan terjadi epilepsi Jackson dan kelemahan motorik yang jelas. Tumor yang menyerang ujung bawah korteks prasentalis menyebabka kelemahan pada wajah, lidah, dan ibu jari, sedangkan tumor pada lobulus parasentralis menyebabkan kelemahan pada kaki dan ekstermitas bawah.
Tumor pada lobus frontalis dapat mengakibatkan gaya berjalan yang tidak mantap, sering menyerupai  ataksia serebelum. Jika lobus frontalis kiri atau yang dominan terkena, akan terihat adanya afasia dan aparaksia.
Pengkajian saraf kranial. Pengkajian ini meliputi pengkajian saraf kranial I-XII.
•    Saraf I. Pada klien dengan tumor intrakranial yang tidak mengalami kompresi saraf ini tidak memiliki kelainan pada fungsi penciuman.
•    Saraf II. Gangguan lapang pandang disebabkan lesi pada bagian tertentu dari lintasan visual. Papiledema disebabkan oleh stasis vena yang menimbulkan pembengkakan papila saraf optikus.
•    Saraf III, IV, dan VI. Adanya kelumpuhan unilateral atau b V. Pada ilateral  dari saraf VI memberikan manifestasi pada suatu tanda adanya glioblastoma multiformis.
•    Saraf V. Pada keadaan tumor intrakranial yang tidak menekan saraf trigeminus, tidak ada kelainan pada fungsi saraf ini. Pada neorolema yang menekan saraf ini akan di dapatkan adanya paralisis wajah ulilateral.
•    Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris, dan otot wajah tertarik ke bagian sisi sehat.
•    Saraf VIII. Pada neorolema di dapatkan adanya tuli persepsi. Tumor lobus temporalis menyebabkan tinitus dan halusinasi pendengaran yang mungkiin diakibatkan iritasi korteks pendengaran temporalis atau korteks yang berbatasan.
•    Saraf XI dan X. Kemampuan menelan kurang baik, dan terdapat kesulitan membuka mulut.
•    Saraf XI. Tidk ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapesiuz.
•    Saraf XII. Lidah simetris, terdapat deviasi pada suatu sisi dan fasikulasi. Indra pengecap normal.
2.    Diagnosa Keperawatan
a.    Resiko tinggi peningkatan intra kranial b.d desak ruang oleh rasa tumor intrakranial.
    Tujuan
Tidak terjadi peningkatan tekanan intrakarnial pada klien dalam waktu 3x24 jam
    Kriteria Hasil
Klien tidak gelisah, klien tidak mengeluh nyeri kepala, mual-mual dan muntah, GCS : 4,5,6, tidak terdapat papiledema, TTV dalam batas normal.
    Intervensi :
1.    Kaji faktor penyebab situasi atau keadaan individu atau penyebeb koma, atau penurunan perkusi jaringan dan kemungkinan penyebab peningkatan tekanan intrakarnial.
2.    Memonitor TTV tiap 4 jam.
3.    Berikan periode istirahat antara tindakan perawatan dan batasi lamanya prosedur.
    Rasional :
1.    Deteksi dini untuk memprioritaskan intervensi, mengkaji status neurologi atau tanda-tanda kegagalan untuk munentukan perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan.
2.    Suatu keadaan normal bila sirkulasi serebral terpelihara dengan baik atau fluktuasi di tandai dengan tekanan darah sistemik penururnan dan autolegulator kebanyakan tanda penurun difusilokal paskularisasi darah serebral.
3.    Tindakan yang terus menerus dapat meningkatkan tekana intrakarnial oleh efek rangsangan kumulatif.
b.    Nyeri akut b.d traksi dan pegeseran sruktur peka nyeri dalam rongga intrakranial.
    Tujuan
Nyeri berkurang atau hilang atau beradaptasi
    Kriteria Hasil
Cara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat beradatasi. Dapat mengidetifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri. Klien tidak gelisah.
    Intervensi :
1.    Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan peredah nyeri non farmakologi dan non infasif.
2.    Ajarkan relaksasi, teknik-teknik untuk mnurunkan ketengan untuk otot rangka, yang dapat menurunkan intesitas nyri dan juga tingkatkan relaksasi masase.
3.    Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik
    Rasional :
1.    Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukan keefektifan mengurangi nyeri.
2.    Akan menghasilkan peredaran darah sehingga kebutuhan oksigen oleh jaringan akan terpenuhi sehingga akan mengurangi nyeri.
3.    Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang
(Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan, Muttaqin Ariff, 2008, Jakarta: Salemba Medika).


C.    PATHWAY Tumor Intrakranial (Tumor Otak)


BAB III
PENUTUP
1.    Kesimpulan
Tumor otak bisa mengenai segala usia. Tapi umumnya pada usia dewasa muda atau pertengahan, jarang di bawah usia 10 tahun atau di alas 70 tahun. Sebagian ahli menyatakan insidens pada laki-laki lebih banyak dibanding wanita, tapi sebagian lagi menyatakan tak ada perbedaan insidens antara pria dan wanita.
Tumor otak atau tumor intrakranial adalah neoplasma atau proses desak ruang (space occupying lesion) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen supratentorial maupun infratentorial, mencakup tumor-tumor primer pada korteks, meningen, vaskuler, kelenjar hipofise, epifise, saraf otak, jaringan penyangga, serta tumor metastasis dari bagian tubuh lainnya.
Tumor otak menunjukkan manifestasi klinik yang tersebar. Tumor ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) serta tanda dan gejala lokal sebagai akibat dari tumor yang menggangu bagian spesifik dari otak. Gejala yang biasanya banyak terjadi akibat tekanan ini adalah sakit kepala, muntah, papiledema (edema saraf optik), perubahan kepribadian dan adanya variasi penurunan fokal motorik, sensori dan disfiungsi saraf kranial.
2.    Saran
Diharapkan perawat dapat menerapkan pengetahuan mereka tentang penyakit tumot otak ini untuk diterapkan di tempat mereka bekerja. Dan juga diharapkan pula perawat dapat menerapkan konsep asuhan keperawatan pada pasien tumor otak dengan semaksimal mungkin. Dengan tujuan agar pasien – pasien pengidap penyakit tumor otak ini dapat segera sembuh dan dapat menjalankan aktivitasnya kembali seperti saat sebelum sakit.

DAFTAR PUSTAKA

    Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
    dr. H. Mohamad Isa. Perawatan Penyakit Dalam & Bedah. Pusat Pendidikan Pegawai Departemen Kesehatan R.I. : Jakarta.
    Muttaqin Ariff. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan Jakarta: Salemba Medika.
    Oswari E. 1989. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : Gramedia.

Monday, May 26, 2014

ASKEP VERTIGO (GEJALA PUSING BERPUTAR)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Vertigo merupakan kasus yang sering ditemui. Secara tidak langsung kitapun pernah mengalami vertigo ini. Kata vertigo berasal dari bahasa Yunani “vertere” yang artinya memutar. Vertigo termasuk kedalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening, sempoyangan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik. Kasus vertigo di Amerika  adalah 64 orang tiap 100.000, dengan presentasi wanita lebih banyak daripada pria. Vertigo juga lebih sering terdapat pada Usia yang lebih tua yaitu diatas 50 tahun.
Vertigo merupakan salah satu kelainan yang dirasakan akibat manifestasi dari kejadian atau trauma lain. Misalnya adanya cidera kepala ringan. Salah satu akibat dari kejadian atau trauma tersebut ialah seseorang akan mengalami vertigo. Kasus ini sebaiknya harus segera ditangani, karena jika dibiarkan begitu saja akan menggangu system lain yang ada di tubuh dan juga sangat merugikan klien karena rasa sakit atau pusing yang begitu hebat. Terkadang klien dengan vertigo ini sulit untuk membuka mata karena rasa pusing seperti terputar-putar. Ini disebabkan karena terjadi ketidakseimbangan atau gangguan orientasi.  
Oleh karena itu, pembelajaran mengenai vertigo beserta asuhan keperawatannya dirasa sangat penting dan perlu. Dengan memiliki pengetahuan yang baik beserta pemberian asuhan keperawatan  yang benar, maka diharapkan agar kasus vertigo ini dapat berkurang dan masyarakat bisa mengetahui akan kasus vertigo ini dan bisa mengantisipati akan hal tersebut.

B.     TUJUAN PENULISAN
  1. Tujuan Umum
Setelah membahas makalah ini Mahasiswa mampu memahami serta menjelaskan konsep dasar vertigo dan asuhan keperawatan klien dengan vertigo
  1. Tujuan Khusus
Mahasiswa diharapkan untuk :
a.       Memahami konsep dasar tentang vertigo
b.      Mahasiswa keperawatan diharapkan dapat memahami dan menjelaskan definisi, etiologi, manifestasi klinis, serta penatalaksanaan pada pasien vertigo
c.       Mahasiswa diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan pasien dengan pasien vertigo.
d.      Mahasiswa mampu menganalisa diagnosa yang muncul dan penatalaksanaan klien dengan pasien vertigo.
e.       Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan keperawatan pada pasien pasien vertigo.
C.    METODE PENULISAN
Dalam pembuatan makalah ini tim penulis menggunakan metode  deskriptif yaitu dengan mengumpulkan data-data yang diambil dari sumber buku perpustakaan dan internet, diskusi kelompok, serta konsultasi dengan dosen pembimbing.
D.    SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah ini disusun berdasarkan sistematika penulisan dalam 3 BAB yaitu :
BAB I       :          
BAB II    :          
BAB III    :                        
Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode   penulisan, dan sistematika penulisan.
Tinjauan teoritis yang terdiri dari anatomi dan fisiologi persyarafan, konsep penyakit vertigo, dan asuhan keperawatanpada pasien vertigo.
Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
LANDASAN TEORI
Landasan teoritis merupakan dasar ilmu pengetahuan yang harus dimiliki oleh setiap individu sebagai pemberian pelayanan keperawatan agar tercapai hasil yang seoptimal mungkin. Pada bab ini penulis menguraikan tentang anatomi fisiologi system syaraf, konsep dasar stroke non hemoragik dan asuhan keperawatan pada klien stroke non hemoragik.
A.    ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERSYARAFAN
System syaraf dibagi menjadi dua sistem syaraf pusat yang terdiri dari otak dan medula spinalis dan system syaraf perifer terdiri dari: saraf kranial dan syaraf spinal.
1.      Jaringan syaraf
a.       Neuron
Susunan saraf pusat manusia mengandung sekitar 100 miliar neuron. Neuron adalah suatu sel saraf dan merupakan unit anatomis dan fungsional system persyarafan. Biasanya terdiri dari dendrit sebagai bagian peneriman rangsangan dari saraf – saraf lain; badan sel yang mengandung inti sel; akson yang menjadi perpanjangan atau serat tempat lewatnya sinyal yang dicetuskan di dendrit dan badan sel: serta terminal sel; serta terminal akson yang menjadi pengirim sinyal untuk disampaikan ke dendrit atau badan sel neuron kedua dan apabila disusunan saraf perifer, sinyal disampaikan ke sel otot atau kelenjar. (Arif Muttaqin, 2008, hlm. 2)
Neuron – neuron yang membawa informasi dari susunan saraf perifer ke sentral disebut neuron sensorik atau aferen. Neuron yang membawa informasi keluar dari susunan saraf pusat ke berbagai organ sasaran (suatu sel otot atau kelenjar) disebut neuron motorik atau eferen. Kelompok ketiga yang membawa sebagian besar neuron susunan saraf pusat, menyampaikan pesan – pesan antara neuron aferen dan eferen, neuron ini disebut interneuron. (Arif Muttaqin, 2008, hlm. 3)
                      Gambar 2. 1 : Neuron
(Sumber: Frederich H. Martini, 2001, hlm. 363)
b.      Transmisi sinap
Neuron menyalurkan sinyal – sinyal saraf ke seluruh tubuh. Kejadian listrik ini yang kita kenal dengan impuls saraf. Impuls saraf bersifat listrik di sepanjang neuron dan bersifat kimia di antara neuron. (Arif Muttaqin, 2008, hlm. 4)
c.       Neutransmiter
Neurotrasmiter merupakan zat kimia yang disintesis dalam neuron dan disimpan dalam gelembung sinaps pada ujung akson. (Arif Muttaqin, 2008, hlm. 4)
2.      Sistem Syaraf Pusat
a.       Otak
Otak merupakan jaringan yang paling banyak memakai energi dalam seluruh tubuh manusia dan terutama berasal dari proses metabolisme oksidasi glukosa. Metabolisme otak merupakan proses tetap dan kontinue, tanpa ada masa istirahat. Bila aliran darah berhenti selama 10 detik saja, maka kesadaran mungkin sudah akan hilang, dan penghentian dalam beberapa menit saja dapat menimbulkan kerusakan yang tidak irreversible. (Valeria C. Scanlon Tina Sanders, 2006, hlm. 157)
b.         Cerebrum
Menurut Arif Muttaqin, (2008, hlm. 9) Cerebrum adalah bagian otak yang paling besar, kira-kira 80% dari berat otak. Cerebrum mempunyai dua hemisfer yang dihubungkan oleh Korpus Kallosum yaitu hemisfer substansia alba, yang menghubungkan bagian – bagian otak dengan bagian yang lain dan substansia grisea yang terdapat diluar terbentuk dari badan – badan sel saraf.  Keempat lobus serebrum yaitu lobus frontal, parietal, temporal dan oksipital. Dapat dilihat pada gambar 2. 2 di bawah.
            Gambar 2. 2 Empat lobus serebrum
(Sumber: http://www.mayfieldclinic.com)
1)      Lobus Prontal
Berfungsi sebagai aktivitas motorik, fungsi intelektual, emosi dan fungsi fisik. Pada bagian prontal kiri terdapat Area Broca yang berfungsi sebagai  pusat motorik bahasa dan mengontrol ekspirasi bicara.
2)      Lobus parietal
Terdapat sensasi primer dari korteks berfungsi sebagai proses input sensori, sensasi posisi, sensasi raba, tekan, perubahan suhu ringan dan pendengaran.
3)      Lobus temporal
Mengandung area auditorius, tempat tujuan  area asosiasi primer untuk informasi auditorik dan mencakup Area Wernicke tempat interpretasi  bau dan penyimpanan bahasa.
4)      Lobus occipital
Mengandung area visual otak, berfungsi sebagai penerima informasi dan menafsirkan warna refleks visual. Lobus ini menerima informasi yang berasal dari retina mata.
c.       Batang Otak
Menurut Arif Muttaqin, (2008. Hlm 12-14) Batang otak terdiri dari otak tengah atau Mesencephalon, pons dan medula oblongata, berfungsi pengaturan reflek untuk fungsi vital tubuh.
Gambar 2. 3 : Otak dan Batang otak
 (Sumber : Davit T. Lisdsays, 1996, hlm. 1571)
1)      Otak tengah berfungsi sebagai kontrol refleks pergerakan mata akibat adanya stimulus pada nervus kranial III dan IV,
2)      Pons
Menghubungkan otak tengah dengan medula oblongata, berfungsi sebagai pusat-pusat refleks pernafasan.
3)      Medula  oblongata
Mengandung pusat reflek yang penting untuk jantung, vasokontriktor, pernafasan, bersin, menelan, batuk, muntah, sekresi saliva. saraf kranial IX, X, XI dan XII keluar dari medula oblongata.
d.   Cerebellum
Besarnya kira-kira ¼ dari cerebrum, antara cerebellum dan cerebrum dibatasai oleh tentorium serebri. Fungsi utama cerebrum koordinasi aktivitas muskuler: kontrol tonus otot, mempertahankan postur dan keseimbangan dan melakukan program akan gerakan – gerakan pada keadaan sadar dan tidak sadar. (Arif Muttaqin, 2008, hlm. 11)
e.       Hipotalamus
Berfungsi memproduksi Anti Diuretik Hormon, mengatur suhu tubuh, mengatur asupan makanan, mengatur aktivitas organ, seperti jantung, pembuluh darah dan usus, merangsang respons organ viseral selama dalam kondisi emosional, mengatur ritme tubuh seperti siklus tidur, perubahan mood dan kesiagaan mental. (Valeria C. Scanlon Tina Sanders, 2006, hlm. 159)
f.       Thalamus
Terletak diatas hipotalamus dibawah serebrum, fungsi thalamus serkait dengan sensasi pengindraan sehingga serebrum akan memahami secara keseluruhan. (Valeria C. Scanlon Tina Sanders, 2006, hlm. 160)
g.      Sirkulasi serebral
Suzzane C. Smelzzer, dkk, (2001, hlm. 2078) menjelaskan Sirkulasi serebral. Sirkulasi serebral menerima kira – kira 20% dari curah jantung atau 750 ml permenit.
Darah arteri yang disulai ke otak berasal dari dua arteri karotis internal dan dua arteri vertebral dan meluas ke sistem percabangan. Karotis internal dibentuk dari percabangan dua karotis dan memberikan sirkulasi darah otak bagian anterior. Arteri – arteri vertebral adalah cabang dari arteri subklavia, mengalir ke belakang dan naik pada satu sisi tulang (Lihat pada gambar 2. 4) belakang bagian vertikal dan masuk tengkorak melalui foramen magnum. Kemudian saling berhubungan menjadi arteri basilaris pada batang otak. Arteri vertebrobasialis paling banyak menyuplai darah ke otak bagian posterior. Arteri basilaris membagi menjadi dua cabang pada arteri serebralis bagian posterior.
Gambar 2.4 : Perjalanan arteri Otak
                         
                   (Sumber : Sylvia A. Price, dkk, 2006, hlm. 1108 dan 1111)
                  
Pada dasar otak di sekitar kelenjar hipofisis, sebuah lingkaran arteri terbentuk diantara rangkaian arteri karotis internal dan vertebral. Lingkaran ini disebut sirkullus willisi (Lihat gambar 2.5) yang dibentuk dari cabang – cabang arteri karotis internal, anterior dan arteri serebral bagian tengah dan arteri penghubung anterior dan posterior. Aliran darah dari sirkulus willisi secara langsung mempengaruhi sirkulasi anterior dan posterior serebral, arteri – arteri pada sirkulus willisi memberi rute alternatif pada aliran darah jika salah satu peran arteri mayor tersumbat.
Gambar 2. 5: Sirkulus Willisi dan beberapa variasi anatomik yang sering dijumpai. Anormali diberi tanda panah. A. Sirkulus willisi yang normal. B. Reduplikasi arteri komunikans anterior. C. Arteri serebri anterior yang menyempit seperti tali. D. Arteria komunikans posterior yang menyempit seperti tali. E. Arteria serebri posterior yang secara embrionik berasal dari arteri interna. ACA. Arteria serebri anterior. AcomA, arteria komunikans anterior. MCA, arteria serebri media. ICA, arteria korotis interna. PcomA, arteria komunikans posterior. PCA, arteria serebri posterior. SCA, arteri serebri superior. BA, arteria basilaris. AICA, arteri serebralis inferior anterior. PICA,arteri serebralis inferior posterior. VA, arteria vertebralis
                         
                          
                   (Sumber: Sylvia A. Price, dkk, 2006, hlm. 1109)
Jika arteri tersumbat karena spasme vaskuler, emboli atau karena trombus, dapat menyebabkan sumbatan aliran darah ke distal neuron – neuron dan mengakibatkan sel neuron cepat nekrosis. Keadaan ini mengakibatkan stroke (cedera serebrospinal atau infark). Pengaruh sumbatan pembuluh darah tergantung pada pembuluh darah dan pada daerah otak yang terserang.
h.      Medula Spinalis
Medula Spinalis  atau sum-sum tulang belakang  bermula pada medula oblongata. Fungsi medula spinalis sebagai gerakan otot tubuh dan pusat refleks.
3.      Sistem Saraf Perifer
Sistem  Saraf Perifer terbagi atas Saraf  Spinal  dan Saraf Kranial
a.       Saraf Spinal
Terdiri atas 31 pasang Saraf Spinal yang terbagi atas :
1)      8 pasang Saraf Servikal
2)      12 pasang Saraf Torakal
3)      5 pasang Saraf lumbal
4)      5 pasang Saraf Sacral
5)      1 pasang  Saraf Coccigeal
b.      Saraf Kranial
Menurut Sylvia A. Price, dkk, (2006, hlm. 1034), bahwa ada 12 saraf kranial  yang masing-masing terbagi berdasarkan fungsinya masing-masing, diantaranya adalah:
Tabel 2.1 Saraf-saraf kranial
Saraf
Asal
Jensi
Fungsi
1)      Olfaktory
2)      Optik
3)      Okulomotor
4)      Troklear
5)      Trigemenal
6)      Abdusen
7)      Fasial
8)      Akustik (Vestibulo Cochlear)
9)      Glassofaringeal
10)  Vagus
11)  Spinal Accessory
12)  Hipoglosus
Bulb factory
Badan geneculate lateral
Otak Tengah
Otak Tengah
Pons
Pons
Pons
Pons
Medulla
Medulla
Medulla
Medulla
Sensorik
Sensorik
Motorik
Prasimpatik
Motorik
Motorik
Sensori
Motorik
Sensorik
Motorik
Parasimpatis
Motorik
Sensorik
Sensorik
Motorik
Moorik
Motorik
Motorik
Pembau
Penglihatan
Motorik kontriksi pupil,  pergerakan bola mata perubahan kontriksi pupil
Pergerakan mata ke bawah
Mengunyah, sensasi dari kulit wajah, kulit kepala dan gigi
Pergerakan mata (lateral)
Pengecapan (2/3) lidah anterior, salivasi,  pendengaran, sensasi wajah
Ekspresi wajah lakrimal, sub mandibular, dan sublingual  kelenjar saliva Lakrimal
Pendengaran, keseimbangan
Sensasi tenggorokan dan tonsil, pengecapan (1/3 lidah posterior)
Salivasi, menelan
Kontraksi faring, gerakan simetris pita suara dan gerakan simetris palatum mole
Pergerakan bahu, rotasi kepala 
Pergerakan otot - otot lidah.
  1. KONSEP PENYAKIT VERTIGO
1.      Pengertian
Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin, mual, muntah) dan pusing (Tarwoto, dkk. 2007)
Vertigo adalah perasaan yang abnormal, mengenai adanya gerakan penderita sekitarnya atau sekitarnya terhadap penderita; tiba-tiba semuanya serasa berputar atau bergerak naik turun dihadapannya. Keadaan ini sering disusul dengan muntah-muntah, bekringat, dan kolaps. Tetapi tidak pernah kehilangan kesadaran. Sering kali disertai gejala-gejala penyakit telinga lainnya. (Manjoer, Arif, dkk. 2002)
Vertigo juga dapat terjadi pada berbagai kondisi, termasuk kelainan batang otak yang serius, misalnya skelerosis multiple, infark, dan tumor. (Muttaqin, Arif. 2008)
2.      Etiologi
Menurut Tarwoto, dkk. (2007) yaitu :
a.         Lesi vestibular
1)      Fisiologik
2)      Labirinitis
3)      Menière
4)      Obat ; misalnya quinine, salisilat.
5)      Otitis media
6)      “Motion sickness”
b.      Lesi saraf vestibularis
1)      Neuroma akustik
2)      Obat ; misalnya streptomycin
3)      Neuronitis vestibular
c.         Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal
1)      Infark atau perdarahan pons
2)      Insufisiensi vertebro-basilar
3)      Migraine arteri basilaris
4)      Sklerosi diseminata
5)      Tumor
6)      Siringobulbia
7)      Epilepsy lobus temporal
d.      Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :
1)      Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
2)      Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan perdarahan.
3)   Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.
4)   Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
5)   Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.
e.        Penyakit SSP :
1)      Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia, hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok jantung.
2)      Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
3)      Trauma kepala/ labirin.
4)      Tumor.
5)      Migren.
6)      Epilepsi.
f.         Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.
g.      Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.
h.      Kelainan mata: kelainan proprioseptik.
3.      Klasifikasi Vertigo
a.         Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok :
1)       Vertigo paroksismal
Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi :
a)       Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.
b)       Yang tanpa disertai keluhan telinga; termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de L'enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).
c)       Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi, termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo posisional paroksismal benigna.
2)       Vertigo kronis
Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa serangan akut, dibedakan menjadi:
a)      Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor serebelopontin.
b)      Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan endokrin.
c)       Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.
3)       Vertigo yang serangannya mendadak / akut kemudian berangsur-angsur mengurang, dibedakan menjadi :
a)      Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.
b)      Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior.
4)       Ada pula yang membagi vertigo menjadi :
a)      Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.
b)      Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.
4.      Patofisiologi
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak.
Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya (Tarwoto, dkk. (2007).
5.      Manifestasi klinik
Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.
6.      Pemerikasaan Penunjang
a.         Audiometri dan BAEP
b.      Psikiatrik
c.         Radiologik dan Imaging
d.      EEG, EMG, dan EKG.
7.      Penatalaksanaan medis.
Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) : Terdiri dari :
a.         Terapi kausal
b.      Terapi simtomatik
c.         Terapi rehabilitatif
  1. ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT VERTIGO
1.      Pengkajian
a.         Aktivitas / Istirahat
·         Letih, lemah, malaise
·         Keterbatasan gerak
·         Ketegangan mata, kesulitan membaca
·         Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala
·         Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.
b.      Sirkulasi
·      Riwayat hypertensi
·      Denyutan vaskuler, misal daerah temporal
·      Pucat, wajah tampak kemerahan.
c.         Integritas Ego
·      Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
·      Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
·      Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
·      Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)
d.      Makanan dan cairan
·      Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).
·      Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
·      Penurunan berat badan
e.         Neurosensoris
·      Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
·      Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
·      Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
·      Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.
·      Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
·      Perubahan pada pola bicara/pola piker
·      Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
·      Penurunan refleks tendon dalam
·      Papiledema.
f.         Nyeri/ kenyamanan
·      Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
·      Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah
·      Fokus menyempit
·      Fokus pada diri sndiri
·      Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
·      Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
g.      Keamanan
·      Riwayat alergi atau reaksi alergi
·      Demam (sakit kepala)
·      Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
·      Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus)
h.      Interaksi social
·      Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit.
i.          Penyuluhan / pembelajaran
·      Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
·      Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone, menopause.
2.      Diagnosa Keperawatan (Doengoes, 1999:2021)
a.         Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
b.      Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
c.         Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.
3.      Intervensi Keperawatan
a.         Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
-          Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
-          Tanda-tanda vital normal
-          Pasien tampak tenang dan rileks
Intervensi/Implementasi
-          Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
-           Anjurkan klien istirahat ditempat tidur
Rasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri
-           Atur posisi pasien senyaman mungkin
Rasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
-           Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
-           Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.
b.      Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat
Kriteria Hasil :
-           Mengidentifikasi prilaku yang tidak efektif
-           Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping yang di miliki
-           Menunjukkan perubahan gaya hidup yang diperlukan atau situasi yang tepat.
Intervensi/Implementasi
-          Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum.
Rasional : Mengenal sejauh dan mengidentifikasi penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan
-          Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya.
Rasional : klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya dan menjadi lebih tenang
-           Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan.
Rasional : agar klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan memberikan klien harapan dan semangat untuk pulih.
-           Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan yang dapat diajarkan.
Rasional : membuat klien merasa lebih berarti dan dihargai.
c.         Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.
Kriteria Hasil :
-           Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
-           Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.
Intervensi / Implementasi :
-          Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
-       Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
-          Diskusikan penyebab individual dari sakit kepala bila diketahui.
Rasional : untuk mengurangi kecemasan klien serta menambah pengetahuan klien tetang penyakitnya.
-       Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.
Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.
-          Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal
Rasional : agar klien mampu melakukan dan merubah posisi/letak tubuh yang kurang baik.
-       Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan.
Rasional : dengan memperhatikan faktor yang berhubungan klien dapat mengurangi sakit kepala sendiri dengan tindakan sederhana, seperti berbaring, beristirahat pada saat serangan.
4.      Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. (Carpenito, 1999:28)
Tujuan Pemulangan pada vertigo adalah :
a.         Nyeri dapat dihilangkan atau diatasi.
b.      Perubahan gaya hidup atau perilaku untuk mengontrol atau mencegah kekambuhan.
c.         Memahami kebutuhan atau kondisi proses penyakit dan kebutuhan terapeutik.
BAB V
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Setiap penyakit yang sama memiliki manifestasi yang berbeda-beda. Seperti halnya pada penyakit vertigo ini yang memunculkan diagnosa keperawatan yang berbeda karena setiap diagnosa yang ditegakkan diambil dari dasar keluhan pasien. Teori dan praktek adalah hal yang berhubungan, jika pada berbagai literatur telah disampaikan mengenai penyakit vertigo yang memberikan tanda dan gejala sesuai penyakit. Ternyata sebagian besar tanda dan gejala itu sama dengan realitas yang ada. Bukti nyata pasien dengan vertigo BPPV tidak mudah untuk disembuhkan. Pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya dan sempat sembuh tapi tidak dapat sembuh total. Pasien telah diberikan berbagai obat selama kurang lebih satu minggu untuk mengatasi pusing yang dideritanya namun hasilnya pasien tetap merasa pusing, meskipun pusing yang dideritanya sedikit turun.
B.     SARAN
Pasien dengan penyakit apapun pasti ada kalanya obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Oleh karenanya jika pasien dengan vertigo ini sulit untuk disembuhkan hendaknya setiap tindakan keperawatan baik mandiri perawat maupun kolaborasi harus dilakukan secara bertahap dan jangan sampai berhenti. Pasien vertigo ini telah merasakan nyeri atau pusingnya sedikit turun setelah diberikan injeksi. Dari informasi pasien tersebut kita dapat memberikan terapi obat injeksi sesuai yang telah diberikan pada pasien agar nyeri yang dirasakan tidak kembali ke episode nyeri awal yang dirasakan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, namun  dalam proses pembuatan makalah penulis menemukan beberapa macam kendala dan kesulitan dalam pencarian sumber-sumber dikarenakan belum mampu menemukan suatu hal yang mendeksti sempurna dan tepat dalam teori.
Maka dari itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi untuk mendekati kesempurnaan dalam proses pembuatan makalah yang penulis susun. Semoga makalah yang penulis susun dapat menjadi bermanfaat dikemudian harinya.
DAFTAR PUSTAKA
Lynda Juall carpernito. 2007. Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan, Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, ed. 7, EGC, Jakarta.
Marilynn E. 2000. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3, EGC: Jakarta.
Kang L S. 2004. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur, Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta.
Manjoer, Arif, dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran, Ed 3. EGC : Jakarta
Muttaqin, Arif. (2008). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika
Sanders, Valeria C. Scanlon Tina. (2006). Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi, edisi 3. Jakarta: EGC

Smelzzer, Suzanna C and Brenda G Barel. (2001) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Sudart, Edisi 8. Jakarta: EGC